Rappeling

Rappeling
dari lantai 3 gedung B, Fakultas Sastra, Unpad, Bandung.

Sabtu, 10 Desember 2011

Sarah Fauziah Saadati: Reblog from: Inong Malasari "Transformasional di R...

Sarah Fauziah Saadati: Reblog from: Inong Malasari "Transformasional di R...: Pada dasarnya tujuan dari tiap pemimpin adalah sama. Sama-sama ingin memberikan perubahan serta kontribusi nyata bagi ummatnya. Namun, buk...

Reblog from: Inong Malasari "Transformasional di Red Cliff, di UGM?"

Pada dasarnya tujuan dari tiap pemimpin adalah sama. Sama-sama ingin memberikan perubahan serta kontribusi nyata bagi ummatnya. Namun, bukan berarti juga cara masing – masing pemimpin sama. Setiap pemimpin punya cara. setiap pemimpin memiliki kepribadian yang unik begitu juga dengan gayanya dalam memimpin. Jika ada jutaan manusia di bumi ini ingin menjadi pemimpin maka kita pasti akan menemukan jutaan gaya memimpin.

Burn (1978) membagi jenis kepemimpinan menjadi dua jenis dalam konteks politik, yakni kepemimpinan transaksional dan transformasional. Singkatnya kepemimpinan transaksional adalah gaya kepemimpinan di mana seorang pemimpin menfokuskan perhatiannya pada transaksi interpersonal antara pemimpin dengan bawahan yang melibatkan hubungan pertukaran. Sedangkan, trasnformasional adalah kepemimpinan yang membawa organisasi pada sebuah tujuan baru yang lebih besar dan belum pernah dicapai sebelumnya dengan memberikan kekuatan mental dan keyakinan kepada para anggota agar mereka bergerak secara sungguh-sungguh menuju tujuan bersama tersebut dengan mengesampingkan kepentingan/keadaan personalnya.

Dari film laga kolosal Red Cliff garapan John Woo cukup menggambarkan begitu sempurnanya transformasional yang dijalankan oleh Liu Bei, Zou Yu, Su Quan dan Zhu Ge Liang. Liu Bei adalah pemimpin yang cukup kharismatik ia tetap memedulikan nasib para rakyatnya meski saat itu ia juga tau harus menyelamatkan istrinya yang akhirnya turut gugur. Begitulah seharusnya pemimpin memimpin, melayani rakyatnya meski diri, anak serta istri juga ikut menjadi korban. Begitulah seharusnya pemimpin, ketika sudah pemimpin terpilih apalagi dipilih oleh rakyat/mahasiswa langsung, maka diri pemimpin itu bukan lagi hanya milik si empunya diri tapi miliki rakyat. Harta, jiwa, dan raga.

Pemimpin itu juga harus cerdas. Zhu Ge Liang contohnya. Staff ahli strategi Liu Bei yang engga Cuma pinter strategi tapi juga ahli dalam Feng Shui. Multitalent. Apakah seorang pemimpin mesti mutitalent? Jika mau jawaban yang maksa maka jawabnya adalah IYA. Seorang pemimpim harus paham apa saja yang menjadi kebuthan dari para rakyatnya. Rakyat butuh pencerahan dalam ilmu bela diri (misal) maka sudah barang tentu pemimpin siap melayani dan siap mengajarkan langsung ke rakyatnya. Jika memang tak memungkinkan maka barulah cari pengganti untuk mengajarkan rakyat. Jangan sampai apa yang menjadi kebutuhan rakyat tak terpenuhi. Bagi saya indikator keberhasilan seorang pemimpin adalah ketika kebutuhan rakyat terpenuhi. Mulai dari basic needsnya sampai aesthetic needs (Maslow’s Need Hierarchy).

Pemimpin itu juga harus kuat dan fokus. Seperti halnya Zou Yu. Latihan – latihan yang dijalankannya sebelum pergi perang menandakan bahwa berperang itu tidak hanya modal nekat tapi juga kekuatan fisik dan mental. Seorang pemimpin juga harus menyiapkan mentalnya ketika banyak dari rakyat yang datang mungkin saja hanya untuk mencacinya. Itu adalah bentuk koreksi langsung dari rakyat. Lebih baik di tegur langsung dari mulut rakyat ketimbang dari mulut penasihat raja yang sebenarnya gak tau – tau amat soal rakyat. Kembali Zou Yu, Cukup dilematis ketika sang isteri pergi begitu saja meninggalkan dirinya untuk menghadap Cao Cao dengan hanya meninggalkan secarik kertas. Disinilah keteguhan hatinya diuji. Apakah sang isteri berhianat atau apa? Dengan resiliensi diri yang cukup baik Zou Yu tetap fokus pada perang yang akan dilaluinya (problem focus coping). Ia tetap profesional menjalankan amanah perang meski sang isteri pergi begitu saja. Begitulah seharusnya pemimpin kuat fisik kuat mental. Juga ingat! Bahwa seorang pemimpin juga harus memiliki  resiliensi yang baik dan fokus terhadap masalah untuk di selesaikan (problem focus coping).

Ya begitulah seharusnya pemimpin. Mungkin jika ini masih terbilang sangat muluk – muluk tapi sebagai seorang pemimpin kita memang akan beranjak ke sana menuju pemimpin yang profesional, pemimpin yang multitalent, pemimpin yang mengerti serta melayani rakyatnya.

Transformasional di Red Cliff memiliki kekhasan tersendiri. Begitu banyak contoh pemimpin dunia yang patut kita contoh ketranformasionalannya. Dan yang paling tinggi dari semua pemimpin transformasional adalah Rasulullah (silahkan baca Shirahnya). Meski sayangnya saya hanya mencuil sedikit apa arti kemimpinan transformasional. Red Cliff hanya sebagian kecil dari contoh kepimpinan.

Berbicara soal PEMIRA UGM, terlepas dari segala macam dinamikanya yang cukup membuat saya ilfeel (jujur) terlebih tahun ini (padahal masih kampanye apalagi membacaan surat suara ya? (#think) saya cuma mau ngeshare apa yang sudah saya tonton dan ternyata tontonan ini memberikan tuntunan bagi saya dan juga anda tentunya. Apalagi yang secara jelas mencalonkan diri menjadi calon presiden mahasiswa. Cukup geli ya ketika mendengar kata Presiden Mahasiswa, sudah presiden, mahasiwa lagi. Kedudukan mahasiswa saja sudah mulia bagi saya, apalagi presiden (#think) sangat mulia dan tentu memikul begitu banyak harapan mahasiswa UGM. Semoga praktek politik di kampus kerakyatan yang dijalankan mahasiwa – mahasiswa ini (termasuk saya) cukup menjadikan diri yang dewasa. 13 tahun memilih 13 tahun pula kita diajak untuk menjadi diri yang transformasional. Momentum PEMIRA UGM 2011, sudahlah menjadi akhir dari generasi black campaign, su’udzan, senggol bacok, pecat, cold war ah dengan segala teman – temanya(#curcol).

Mari kita belajar menjadi pemimpin yang tranformasional di mulai dari memimpin diri sendiri. Mari belajar! karena belajar tak mengenal umur. Utubul ‘ilma minal mahdi illal lahdi. Sipp semangat PEMIRA UGM 2011. Mari menjadi pemilih yang cerdas.#mencobamenulisdanberopini

Rabu, 12 Januari 2011

Kampung Inggris Pare

Mr. Kalend (Pendiri Kampung Inggris)

Garuda Park
Simpang Lima Gumul Di Malam Hari

"harga bakpau nya berapa pak?"
"one thousand rupiahs" jawab si bapak tukang bakpau.
Waw!..agak kaget memang. Tapi, itulah sedikit pecakapan yang terjadi saat aku baru tiba di kampung Pare, Desa Tuungredjo, Kediri, Jawa Timur.
Seiring perjalananku mencari kos-an, aku terus-menerus mengelap keringatku. Maklum, udara di daerah ini lumayan panas. Setelah beberapa lama, aku melewati pangkalan becak. Tiba-tiba ada yang menyapaku, “Where will you go?, I’ll pick you up”.
Hah!!..mulutku ternganga makin lebar.
Diatas adalah sedikit ilustrasi dari Kampung Inggris. Pertanyaan pertama yang muncul di pikiran saya adalah, bagaimana bisa seorang penjual bakpau dan tukang becak berbahasa inggris?Dengan tata bahasa yang tidak bisa dibilang berantakan??
Karena, disana terdapat lebih dari 350 tempat kursus bahasa inggris. Dan sebagian besar dari tempat kursus tersebut memiliki asrama yang mewajibkan mereka berbahasa inggris. Disamping itu, para siswa dari ratusan tempat kursus itu menggunakan bahasa inggris kemanapun mereka pergi. Pada saat bersepeda bersama teman-teman, makan di warung, berjalan-jalan sore, maupun curhat sebelum tidur.
Dalam tulisan ini saya hanya ingin berbagi pengalaman kepada anda yang berminat mengunjungi Kampung  Inggris. Bahwa, hal pertama yang harus dilakukan adalah menentukan tempat kursus mana yang akan anda tuju. Cari Informasi sebanyak-banyaknya tentang tempat kursus tersebut, hubungi tempat itu dan tanyakan waktu pendaftaran. Menurut pengalaman saya, tahun ajaran baru di Kampung Inggris dimulai setiap bulan dan terjadi dalam dua periode yaitu: setiap tanggal 10 dan 25.
Perlu diketahui juga bahwa disana terdapat program bulanan dan program dua mingguan. Maksudnya, Progam tersebut hanya berjalan dalam jangka waktu satu bulan atau dua minggu. Adapun pilihan program yang terdapat di sebagian besar tempat kursus adalah speaking, writing, pronunciation, grammar, toefl, dll. Sesuaikan dengan minat yang anda miliki.
Disana terdapat dua jenis asrama/tempat kos. Pertama, English Area. Disini anda akan mendapat fasilitas belajar bahasa inggris untuk daily conversation. Umumnya, setiap senin-jumat sehabis shalat shubuh dan shalat maghrib. Harga berkisar Rp150.000/bulan. Kedua, non-English Area. Disini anda hanya mendapatkan fasilitas menginap selama satu bulan, lengkap dengan aksesorisnya (kasur,lemari,dll). Dengan harga, Rp100.000/bulan.
Hal penting lainnya adalah, menyewa sepeda. Ya, karena di Pare tidak terdapat angkutan umum yang akan mengangkut kita dari kos-an menuju tempat kursus. Dengan membayar Rp40.000/bulan, anda dapat menikmati service gratis jika terdapat kerusakan pada sepeda anda.
Di Pare terdapat tempat wisata yang patut kita kunjungi untuk sekedar menyegarkan otak.  Seperti Simpang Lima Gumul, Candi Surowono, Garuda Park, dll.
Pesan saya ketika anda mengunjungi Kampung Inggris ini adalah, don’t expect too much!. Karena, segala hal yang ada disini tidak selalu sesuai dengan harapan anda. Jangan berharap yang muluk-muluk dengan keadaan alam disini.
Tapi, bagi anda yang mencintai bahasa inggris, atau sekedar ingin menguasainya, inilah tempatnya!!